Jumat, 04 Mei 2012
Differential Manchester encoding
Differential Manchester encoding
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas
Differential Manchester encoding, juga disebut biphase tanda kode (BMC) atau FM1, adalah kode baris di mana Data dan sinyal clock digabungkan untuk membentuk 2-tingkat satu diri sinkronisasi aliran data . Ini adalah pengkodean diferensial , menggunakan ada atau tidak adanya transisi untuk menunjukkan nilai logis . Ini memiliki beberapa keuntungan atas beberapa kode baris lainnya:
Differential Manchester adalah diri sinkronisasi karena ada perubahan pada sinyal setidaknya setiap dua bit. Tidak perlu untuk mengetahui polaritas sinyal dikirim karena informasi tersebut tidak disimpan dalam nilai yang sebenarnya dari tegangan tetapi dalam perubahan mereka: dengan kata lain tidak masalah apakah logis 1 atau 0 diterima, tetapi hanya apakah polaritas adalah sama atau berbeda dengan nilai sebelumnya, ini membuat sinkronisasi lebih mudah. Akhirnya, jika negara-negara tinggi dan rendah memiliki tegangan yang sama dengan polaritas yang berlawanan, sinyal kode memiliki nol tegangan DC rata-rata , sehingga mengurangi daya transmisi yang diperlukan dan meminimalkan jumlah kebisingan elektromagnetik yang dihasilkan oleh saluran transmisi. Semua aspek positif yang dicapai dengan mengorbankan menggandakan frekuensi clock.
Differential Manchester ditentukan dalam 802.5 IEEE standar untuk tanda cincin LAN, dan digunakan untuk aplikasi lainnya, termasuk penyimpanan magnetik dan optik. Biphase Mark Code (BMC) digunakan sebagai metode pengkodean dalam AES3 dan S / PDIF . Banyak strip magnetik kartu juga menggunakan BMC encoding, yang sering disebut F2F (frekuensi / frekuensi ganda) atau Aiken Biphase. Standar yang dijelaskan dalam ISO / IEC 7811 . SMPTE kode waktu juga menggunakan BMC. BMC juga asli "modulasi frekuensi" yang digunakan pada single-density disket , sebelum digantikan oleh "double-density" modulasi frekuensi diubah .
- Transisi dijamin minimal sekali setiap bit, yang memungkinkan perangkat penerima untuk melakukan pemulihan jam .
- Mendeteksi transisi sering kurang rawan kesalahan dari membandingkan terhadap ambang batas di lingkungan yang bising.
- Berbeda dengan Manchester encoding , hanya kehadiran sebuah transisi penting, tidak polaritasnya. Diferensial coding skema akan bekerja persis sama jika sinyal terbalik (kabel bertukar). (Lainnya Kode garis dengan properti ini termasuk NRZI , bipolar pengkodean , kode inversi tanda , dan MLT-3 encoding ).
- Jika sinyal tingkat tinggi dan rendah memiliki tegangan yang sama dengan polaritas yang berlawanan, sinyal kode memiliki nol tegangan DC rata-rata , sehingga mengurangi daya transmisi yang diperlukan dan meminimalkan jumlah kebisingan elektromagnetik yang dihasilkan oleh saluran transmisi.
Differential Manchester adalah diri sinkronisasi karena ada perubahan pada sinyal setidaknya setiap dua bit. Tidak perlu untuk mengetahui polaritas sinyal dikirim karena informasi tersebut tidak disimpan dalam nilai yang sebenarnya dari tegangan tetapi dalam perubahan mereka: dengan kata lain tidak masalah apakah logis 1 atau 0 diterima, tetapi hanya apakah polaritas adalah sama atau berbeda dengan nilai sebelumnya, ini membuat sinkronisasi lebih mudah. Akhirnya, jika negara-negara tinggi dan rendah memiliki tegangan yang sama dengan polaritas yang berlawanan, sinyal kode memiliki nol tegangan DC rata-rata , sehingga mengurangi daya transmisi yang diperlukan dan meminimalkan jumlah kebisingan elektromagnetik yang dihasilkan oleh saluran transmisi. Semua aspek positif yang dicapai dengan mengorbankan menggandakan frekuensi clock.
Differential Manchester ditentukan dalam 802.5 IEEE standar untuk tanda cincin LAN, dan digunakan untuk aplikasi lainnya, termasuk penyimpanan magnetik dan optik. Biphase Mark Code (BMC) digunakan sebagai metode pengkodean dalam AES3 dan S / PDIF . Banyak strip magnetik kartu juga menggunakan BMC encoding, yang sering disebut F2F (frekuensi / frekuensi ganda) atau Aiken Biphase. Standar yang dijelaskan dalam ISO / IEC 7811 . SMPTE kode waktu juga menggunakan BMC. BMC juga asli "modulasi frekuensi" yang digunakan pada single-density disket , sebelum digantikan oleh "double-density" modulasi frekuensi diubah .
Menentukan Binary 10110011100
Menentukan Binary 10110011100 Kedalam Teknik Enkoding
TENTUNKAN BINARY
BERIKUT :
10110011100 KEDALAM
TEKNIK ENKODING :
--NRZ --> NRZ-I
& NRZ-L
--MULTI LEVEL BINARY
--> BIPOLAR-AMI & PESUDOTERNARY
--BIPHASE -->
MANCHESTER & DIFFERENTIAL MANCHESTERTEKNIK DATA ENCODING
teknik data encoding
TEKNIK ENCODING DATA
http://caplak.adlink.net/teknik-encoding
TEKNIK ENCODING
Modulasi adalah proses encoding sumber data dalam suatu sinyal carrier dengan frekuensi fc.
Macam – macam teknik encoding :
• Data digital, sinyal digital
• Data analog, sinyal digital
• Data digital, sinyal analog
• Data analog, sinyal analog
Macam – macam teknik encoding :
• Data digital, sinyal digital
• Data analog, sinyal digital
• Data digital, sinyal analog
• Data analog, sinyal analog
DATA DIGITAL, SINYAL DIGITAL
Sinyal digital adalah sinyal diskrit dengan pulsa tegangan diskontinyu. Tiap pulsa adalah elemen sinyal data biner diubah menjadi elemen – elemen sinyal.
Spektrum sinyal : disain sinyal yang bagus harus mengkonsentrasikan kekuatan transmisinya pada daerah tengah dari bandwidth transmisi; untuk mengatasi distorsi dalam penerimaan sinyal digunakan disain kode yang sesuai dengan bentuk dari spektrum sinyal transmisi.
Sinyal digital adalah sinyal diskrit dengan pulsa tegangan diskontinyu. Tiap pulsa adalah elemen sinyal data biner diubah menjadi elemen – elemen sinyal.
Spektrum sinyal : disain sinyal yang bagus harus mengkonsentrasikan kekuatan transmisinya pada daerah tengah dari bandwidth transmisi; untuk mengatasi distorsi dalam penerimaan sinyal digunakan disain kode yang sesuai dengan bentuk dari spektrum sinyal transmisi.
Elemen sinyal adalah tiap pulsa dari sinyal digital. Data binary
ditransmisikan dengan meng-encoder-kan tiap bit data menjadi
elemen-elemen sinyal.
Ketentuan :
• Unipolar: Semua elemen-elemen sinyal dalam bentuk yang sama yaitu positif semua atau negatif semua.
• Polar :adalah elemen-elemen sinyal dimana salah satu state logic dinyatakan oleh level tegangan positif dan sebaliknya oleh tegangan negatif
• Rating Data : Rating data transmisi data dalam bit per secon
• Durasi atau panjang suatu bit: Waktu yang dibutuhkan pemancar untuk memancarkan bit
• Rating modulasi
• Rating dimana level sinyal berubah
• Diukur dalam bentuk baud=elemen-elemen sinyal per detik
• Tanda dan ruang
• Biner 1 dan biner 0 berturut-turut
• Modulation rate adalah kecepatan dimana level sinyal berubah, dinyatakan dalam bauds atau elemen sinyal per detik.
• Istilah mark dan space menyatakan digit binary ’1′ dan ’0′.
Ketentuan :
• Unipolar: Semua elemen-elemen sinyal dalam bentuk yang sama yaitu positif semua atau negatif semua.
• Polar :adalah elemen-elemen sinyal dimana salah satu state logic dinyatakan oleh level tegangan positif dan sebaliknya oleh tegangan negatif
• Rating Data : Rating data transmisi data dalam bit per secon
• Durasi atau panjang suatu bit: Waktu yang dibutuhkan pemancar untuk memancarkan bit
• Rating modulasi
• Rating dimana level sinyal berubah
• Diukur dalam bentuk baud=elemen-elemen sinyal per detik
• Tanda dan ruang
• Biner 1 dan biner 0 berturut-turut
• Modulation rate adalah kecepatan dimana level sinyal berubah, dinyatakan dalam bauds atau elemen sinyal per detik.
• Istilah mark dan space menyatakan digit binary ’1′ dan ’0′.
Tugas-tugas receiver dalam mengartikan sinyal-sinyal digital:
• receiver harus mengetahui timing dari tiap bit
• receiver harus menentukan apakah level sinyal dalam posisi bit high(1) atau low(0).
Tugas-tugas ini dilaksanakan dengan men-sampling tiap posisi bit pada tengah-tengah interval dan membandingkan nilainya dengan threshold.
• receiver harus mengetahui timing dari tiap bit
• receiver harus menentukan apakah level sinyal dalam posisi bit high(1) atau low(0).
Tugas-tugas ini dilaksanakan dengan men-sampling tiap posisi bit pada tengah-tengah interval dan membandingkan nilainya dengan threshold.
Faktor yang menentukan sukses dari receiver dalam mengartikan sinyal yang datang :
• Data rate (kecepatan data) : peningkatan data rate akan meningkatkan bit error
rate (kecepatan error dari bit).
• S/N : peningkatan S/N akan menurunkan bit error rate.
• Bandwidth : peningkatan bandwidth dapat meningkatkan data rate.
• Data rate (kecepatan data) : peningkatan data rate akan meningkatkan bit error
rate (kecepatan error dari bit).
• S/N : peningkatan S/N akan menurunkan bit error rate.
• Bandwidth : peningkatan bandwidth dapat meningkatkan data rate.
Lima faktor yang perlu dinilai atau dibandingkan dari berbagai teknik komunikasi :
• Spektrum sinyal : disain sinyal yang bagus harus mengkonsentrasikan kekuatan transmisinya pada daerah tengah dari bandwidth transmisi; untuk mengatasi distorsi dalam penerimaan sinyal digunakan disain kode yang sesuai dengan bentuk dari spektrum sinyal transmisi.
• Clocking : menentukan awal dan akhir dari tiap posisi bit dengan mekanisme synchronisasi yang berdasarkan pada sinyal transmisi.
• Deteksi error : dibentuk dalam skema fisik encoding sinyal.
• Interferensi sinyal dan Kekebalan terhadap noise
• Biaya dan kesulitan : semakin tinggi kecepatan pensinyalan untuk memenuhi data rate yang ada, semakin besar biayanya.
Perlu diketahui
• Waktu bit saat mulai dan berakhirnya
• Level sinyal
Faktor-faktor penerjemahan sinyal yang sukses
• Perbandingan sinyal dengan noise(gangguan)
• Rating data
• Bandwidth
Perbandingan Pola-Pola Encoding
• Spektrum sinyal
Kekurangan pada frekuensi tinggi mengurangi bandwidth yang dibutuhkan. Kekurangan pada komponen dc menyebabkan kopling ac melalui trafo menimbulkan isolasi Pusatkan kekuatan sinyal di tengah bandwidth
• Clocking
• Sinkronisasi transmiter dan receiver
• Clock eksternal
• Mekanisme sinkronisasi berdasarkan sinyal
• Pendeteksian error
• Dapat dibangun untuk encoding sinyal
• Interferensi sinyal dan kekebalan terhadap noise
• Beberapa code lebih baik daripada yang lain
• Harga dan Kerumitan
• Rating sinyal yang lebih tinggi(seperti kecepatan data) menyebabkan harga semakin tinggi
• Beberapa code membutuhkan rating sinyal lebih tinggi
Pola –Pola encoding
• Nonreturn to Zero-Level (NRZ-L)
• Nonreturn to Zero Inverted (NRZI)
• Bipolar-AMI
• Pseudoternary
• Manchester
• Differential Manchester
• B8ZS
• HDB3
Nonreturn to Zero Inverted (NRZI):yaitu suatu kode dimana suatu transisi (low ke high atau high ke low) pada awal suatu bit time akan dikenal sebagai binary ’1′ untuk bit time tersebut; tidak ada transisi berarti binary ’0′. Sehingga NRZI merupakan salah satu contoh dari differensial encoding.
• Nonreturn to Zero Inverted (NRZI) dalam kesatuan
• Pulsa tegangan konstan untuk durasi bit
• Data dikodekan / diterjemahkan sebagai kehadiran(ada) atau ketiadaan sinyal transisi saat permulaan bit time
• Transisi (dari rendah ke tinggi atau tinggi ke rendah) merupakan biner 1
• Tidak ada transisi untuk biner 0
• Sebagai contoh encoding differential
Keuntungan differensial encoding :
• lebih kebal noise
• tidak dipengaruhi oleh level tegangan.
Kelemahan dari NRZ-L maupun NRZI :
• keterbatasan dalam komponen dc dan kemampuan synchronisasi yang buruk
NRZ
• Spektrum sinyal : disain sinyal yang bagus harus mengkonsentrasikan kekuatan transmisinya pada daerah tengah dari bandwidth transmisi; untuk mengatasi distorsi dalam penerimaan sinyal digunakan disain kode yang sesuai dengan bentuk dari spektrum sinyal transmisi.
• Clocking : menentukan awal dan akhir dari tiap posisi bit dengan mekanisme synchronisasi yang berdasarkan pada sinyal transmisi.
• Deteksi error : dibentuk dalam skema fisik encoding sinyal.
• Interferensi sinyal dan Kekebalan terhadap noise
• Biaya dan kesulitan : semakin tinggi kecepatan pensinyalan untuk memenuhi data rate yang ada, semakin besar biayanya.
Perlu diketahui
• Waktu bit saat mulai dan berakhirnya
• Level sinyal
Faktor-faktor penerjemahan sinyal yang sukses
• Perbandingan sinyal dengan noise(gangguan)
• Rating data
• Bandwidth
Perbandingan Pola-Pola Encoding
• Spektrum sinyal
Kekurangan pada frekuensi tinggi mengurangi bandwidth yang dibutuhkan. Kekurangan pada komponen dc menyebabkan kopling ac melalui trafo menimbulkan isolasi Pusatkan kekuatan sinyal di tengah bandwidth
• Clocking
• Sinkronisasi transmiter dan receiver
• Clock eksternal
• Mekanisme sinkronisasi berdasarkan sinyal
• Pendeteksian error
• Dapat dibangun untuk encoding sinyal
• Interferensi sinyal dan kekebalan terhadap noise
• Beberapa code lebih baik daripada yang lain
• Harga dan Kerumitan
• Rating sinyal yang lebih tinggi(seperti kecepatan data) menyebabkan harga semakin tinggi
• Beberapa code membutuhkan rating sinyal lebih tinggi
Pola –Pola encoding
• Nonreturn to Zero-Level (NRZ-L)
• Nonreturn to Zero Inverted (NRZI)
• Bipolar-AMI
• Pseudoternary
• Manchester
• Differential Manchester
• B8ZS
• HDB3
Nonreturn to Zero Inverted (NRZI):yaitu suatu kode dimana suatu transisi (low ke high atau high ke low) pada awal suatu bit time akan dikenal sebagai binary ’1′ untuk bit time tersebut; tidak ada transisi berarti binary ’0′. Sehingga NRZI merupakan salah satu contoh dari differensial encoding.
• Nonreturn to Zero Inverted (NRZI) dalam kesatuan
• Pulsa tegangan konstan untuk durasi bit
• Data dikodekan / diterjemahkan sebagai kehadiran(ada) atau ketiadaan sinyal transisi saat permulaan bit time
• Transisi (dari rendah ke tinggi atau tinggi ke rendah) merupakan biner 1
• Tidak ada transisi untuk biner 0
• Sebagai contoh encoding differential
Keuntungan differensial encoding :
• lebih kebal noise
• tidak dipengaruhi oleh level tegangan.
Kelemahan dari NRZ-L maupun NRZI :
• keterbatasan dalam komponen dc dan kemampuan synchronisasi yang buruk
NRZ
Bipolar with 8-Zeros Substitution (B8ZS) yaitu suatu kode dimana :
• jika terjadi oktaf dari semua nol dan pulsa tegangan terakhir yang mendahului oktaf ini adalah positif, maka 8 nol dari oktaf tersebut di-encode sebagai 000+ -0-
• jika terjadi oktaf dari semua nol dan pulsa tegangan terakhir yang mendahului oktaf ini adalah negatif, maka 8 nol dari oktaf tersebut di-encode sebagai 000-+0+ -.
• jika terjadi oktaf dari semua nol dan pulsa tegangan terakhir yang mendahului oktaf ini adalah positif, maka 8 nol dari oktaf tersebut di-encode sebagai 000+ -0-
• jika terjadi oktaf dari semua nol dan pulsa tegangan terakhir yang mendahului oktaf ini adalah negatif, maka 8 nol dari oktaf tersebut di-encode sebagai 000-+0+ -.
High-density bipolar-3 zeros (HDB3): yaitu suatu
kode dimana menggantikan stringstring dari 4 nol dengan rangkaian yang
mengandung satu atau dua pulsa atau disebut kode violation, jika
violation terakhir positive maka violation ini pasti negative dan
sebaliknya.
ASCII
Kode Standar Amerika untuk Pertukaran Informasi atau ASCII (American Standard Code for Information Interchange) merupakan suatu standar internasional dalam kode huruf dan simbol seperti Hex dan Unicode tetapi ASCII lebih bersifat universal, contohnya 124 adalah untuk karakter "|". Ia selalu digunakan oleh komputer dan alat komunikasi lain untuk menunjukkan teks. Kode ASCII sebenarnya memiliki komposisi bilangan biner
sebanyak 8 bit. Dimulai dari 0000 0000 hingga 1111 1111. Total
kombinasi yang dihasilkan sebanyak 256, dimulai dari kode 0 hingga 255
dalam sistem bilangan Desimal.
Tabel Karakter ASCII
Tabel berikut berisi karakter-karakter ASCII . Dalam sistem operasi Windows dan MS-DOS, pengguna dapat menggunakan karakter ASCII dengan menekan tombol Alt+[nomor nilai ANSI (desimal)]. Sebagai contoh, tekan kombinasi tombol Alt+87 untuk karakter huruf latin "W" kapital.| Karakter | Nilai Unicode (heksadesimal) |
Nilai ANSI ASCII (desimal) |
Keterangan |
|---|---|---|---|
| NUL | 0000 | 0 | Null (tidak tampak) |
| SOH | 0001 | 1 | Start of heading (tidak tampak) |
| STX | 0002 | 2 | Start of text (tidak tampak) |
| ETX | 0003 | 3 | End of text (tidak tampak) |
| EOT | 0004 | 4 | End of transmission (tidak tampak) |
| ENQ | 0005 | 5 | Enquiry (tidak tampak) |
| ACK | 0006 | 6 | Acknowledge (tidak tampak) |
| BEL | 0007 | 7 | Bell (tidak tampak) |
| BS | 0008 | 8 | Menghapus satu karakter di belakang kursor (Backspace) |
| HT | 0009 | 9 | Horizontal tabulation |
| LF | 000A | 10 | Pergantian baris (Line feed) |
| VT | 000B | 11 | Tabulasi vertikal |
| FF | 000C | 12 | Pergantian baris (Form feed) |
| CR | 000D | 13 | Pergantian baris (carriage return) |
| SO | 000E | 14 | Shift out (tidak tampak) |
| SI | 000F | 15 | Shift in (tidak tampak) |
| DLE | 0010 | 16 | Data link escape (tidak tampak) |
| DC1 | 0011 | 17 | Device control 1 (tidak tampak) |
| DC2 | 0012 | 18 | Device control 2 (tidak tampak) |
| DC3 | 0013 | 19 | Device control 3 (tidak tampak) |
| DC4 | 0014 | 20 | Device control 4 (tidak tampak) |
| NAK | 0015 | 21 | Negative acknowledge (tidak tampak) |
| SYN | 0016 | 22 | Synchronous idle (tidak tampak) |
| ETB | 0017 | 23 | End of transmission block (tidak tampak) |
| CAN | 0018 | 24 | Cancel (tidak tampak) |
| EM | 0019 | 25 | End of medium (tidak tampak) |
| SUB | 001A | 26 | Substitute (tidak tampak) |
| ESC | 001B | 27 | Escape (tidak tampak) |
| FS | 001C | 28 | File separator |
| GS | 001D | 29 | Group separator |
| RS | 001E | 30 | Record separator |
| US | 001F | 31 | Unit separator |
| SP | 0020 | 32 | Spasi |
| ! | 0021 | 33 | Tanda seru (exclamation) |
| " | 0022 | 34 | Tanda kutip dua |
| # | 0023 | 35 | Tanda pagar (kres) |
| $ | 0024 | 36 | Tanda mata uang dolar |
| % | 0025 | 37 | Tanda persen |
| & | 0026 | 38 | Karakter ampersand (&) |
| ‘ | 0027 | 39 | Karakter Apostrof |
| ( | 0028 | 40 | Tanda kurung buka |
| ) | 0029 | 41 | Tanda kurung tutup |
| * | 002A | 42 | Karakter asterisk (bintang) |
| + | 002B | 43 | Tanda tambah (plus) |
| , | 002C | 44 | Karakter koma |
| - | 002D | 45 | Karakter hyphen (strip) |
| . | 002E | 46 | Tanda titik |
| / | 002F | 47 | Garis miring (slash) |
| 0 | 0030 | 48 | Angka nol |
| 1 | 0031 | 49 | Angka satu |
| 2 | 0032 | 50 | Angka dua |
| 3 | 0033 | 51 | Angka tiga |
| 4 | 0034 | 52 | Angka empat |
| 5 | 0035 | 53 | Angka lima |
| 6 | 0036 | 54 | Angka enam |
| 7 | 0037 | 55 | Angka tujuh |
| 8 | 0038 | 56 | Angka delapan |
| 9 | 0039 | 57 | Angka sembilan |
| : | 003A | 58 | Tanda titik dua |
| ; | 003B | 59 | Tanda titik koma |
| < | 003C | 60 | Tanda lebih kecil |
| = | 003D | 61 | Tanda sama dengan |
| > | 003E | 62 | Tanda lebih besar |
| ? | 003F | 63 | Tanda tanya |
| @ | 0040 | 64 | A keong (@) |
| A | 0041 | 65 | Huruf latin A kapital |
| B | 0042 | 66 | Huruf latin B kapital |
| C | 0043 | 67 | Huruf latin C kapital |
| D | 0044 | 68 | Huruf latin D kapital |
| E | 0045 | 69 | Huruf latin E kapital |
| F | 0046 | 70 | Huruf latin F kapital |
| G | 0047 | 71 | Huruf latin G kapital |
| H | 0048 | 72 | Huruf latin H kapital |
| I | 0049 | 73 | Huruf latin I kapital |
| J | 004A | 74 | Huruf latin J kapital |
| K | 004B | 75 | Huruf latin K kapital |
| L | 004C | 76 | Huruf latin L kapital |
| M | 004D | 77 | Huruf latin M kapital |
| N | 004E | 78 | Huruf latin N kapital |
| O | 004F | 79 | Huruf latin O kapital |
| P | 0050 | 80 | Huruf latin P kapital |
| Q | 0051 | 81 | Huruf latin Q kapital |
| R | 0052 | 82 | Huruf latin R kapital |
| S | 0053 | 83 | Huruf latin S kapital |
| T | 0054 | 84 | Huruf latin T kapital |
| U | 0055 | 85 | Huruf latin U kapital |
| V | 0056 | 86 | Huruf latin V kapital |
| W | 0057 | 87 | Huruf latin W kapital |
| X | 0058 | 88 | Huruf latin X kapital |
| Y | 0059 | 89 | Huruf latin Y kapital |
| Z | 005A | 90 | Huruf latin Z kapital |
| [ | 005B | 91 | Kurung siku kiri |
| \ | 005C | 92 | Garis miring terbalik (backslash) |
| ] | 005D | 93 | Kurung sikur kanan |
| ^ | 005E | 94 | Tanda pangkat |
| _ | 005F | 95 | Garis bawah (underscore) |
| ` | 0060 | 96 | Tanda petik satu |
| a | 0061 | 97 | Huruf latin a kecil |
| b | 0062 | 98 | Huruf latin b kecil |
| c | 0063 | 99 | Huruf latin c kecil |
| d | 0064 | 100 | Huruf latin d kecil |
| e | 0065 | 101 | Huruf latin e kecil |
| f | 0066 | 102 | Huruf latin f kecil |
| g | 0067 | 103 | Huruf latin g kecil |
| h | 0068 | 104 | Huruf latin h kecil |
| i | 0069 | 105 | Huruf latin i kecil |
| j | 006A | 106 | Huruf latin j kecil |
| k | 006B | 107 | Huruf latin k kecil |
| l | 006C | 108 | Huruf latin l kecil |
| m | 006D | 109 | Huruf latin m kecil |
| n | 006E | 110 | Huruf latin n kecil |
| o | 006F | 111 | Huruf latin o kecil |
| p | 0070 | 112 | Huruf latin p kecil |
| q | 0071 | 113 | Huruf latin q kecil |
| r | 0072 | 114 | Huruf latin r kecil |
| s | 0073 | 115 | Huruf latin s kecil |
| t | 0074 | 116 | Huruf latin t kecil |
| u | 0075 | 117 | Huruf latin u kecil |
| v | 0076 | 118 | Huruf latin v kecil |
| w | 0077 | 119 | Huruf latin w kecil |
| x | 0078 | 120 | Huruf latin x kecil |
| y | 0079 | 121 | Huruf latin y kecil |
| z | 007A | 122 | Huruf latin z kecil |
| { | 007B | 123 | Kurung kurawal buka |
| ¦ | 007C | 124 | Garis vertikal (pipa) |
| } | 007D | 125 | Kurung kurawal tutup |
| ~ | 007E | 126 | Karakter gelombang (tilde) |
| DEL | 007F | 127 | Delete |
| 0080 | 128 | Dicadangkan | |
| 0081 | 129 | Dicadangkan | |
| 0082 | 130 | Dicadangkan | |
| 0083 | 131 | Dicadangkan | |
| IND | 0084 | 132 | Index |
| NEL | 0085 | 133 | Next line |
| SSA | 0086 | 134 | Start of selected area |
| ESA | 0087 | 135 | End of selected area |
| 0088 | 136 | Character tabulation set | |
| 0089 | 137 | Character tabulation with justification | |
| 008A | 138 | Line tabulation set | |
| PLD | 008B | 139 | Partial line down |
| PLU | 008C | 140 | Partial line up |
| 008D | 141 | Reverse line feed | |
| SS2 | 008E | 142 | Single shift two |
| SS3 | 008F | 143 | Single shift three |
| DCS | 0090 | 144 | Device control string |
| PU1 | 0091 | 145 | Private use one |
| PU2 | 0092 | 146 | Private use two |
| STS | 0093 | 147 | Set transmit state |
| CCH | 0094 | 148 | Cancel character |
| MW | 0095 | 149 | Message waiting |
| 0096 | 150 | Start of guarded area | |
| 0097 | 151 | End of guarded area | |
| 0098 | 152 | Start of string | |
| 0099 | 153 | Dicadangkan | |
| 009A | 154 | Single character introducer | |
| CSI | 009B | 155 | Control sequence introducer |
| ST | 009C | 156 | String terminator |
| OSC | 009D | 157 | Operating system command |
| PM | 009E | 158 | Privacy message |
| APC | 009F | 158 | Application program command |
| 00A0 | 160 | Spasi yang bukan pemisah kata | |
| ¡ | 00A1 | 161 | Tanda seru terbalik |
| ¢ | 00A2 | 162 | Tanda sen (Cent) |
| £ | 00A3 | 163 | Tanda Poundsterling |
| ¤ | 00A4 | 164 | Tanda mata uang (Currency) |
| ¥ | 00A5 | 165 | Tanda Yen |
| ¦ | 00A6 | 166 | Garis tegak putus-putus (broken bar) |
| § | 00A7 | 167 | Section sign |
| ¨ | 00A8 | 168 | Diaeresis |
| © | 00A9 | 169 | Tanda hak cipta (Copyright) |
| ª | 00AA | 170 | Feminine ordinal indicator |
| « | 00AB | 171 | Left-pointing double angle quotation mark |
| ¬ | 00AC | 172 | Not sign |
| | 00AD | 173 | Tanda strip (hyphen) |
| ® | 00AE | 174 | Tanda merk terdaftar |
| ¯ | 00AF | 175 | Macron |
| ° | 00B0 | 176 | Tanda derajat |
| ± | 00B1 | 177 | Tanda kurang lebih (plus-minus) |
| ² | kodok | 178 | Tanda kuadrat (pangkat dua) |
| ³ | 00B3 | 179 | Tanda kubik (pangkat tiga) |
| ´ | 00B4 | 180 | Acute accent |
| µ | 00B5 | 181 | Micro sign |
| ¶ | 00B6 | 182 | Pilcrow sign |
| · | 00B7 | 183 | Middle dot |
Rabu, 18 April 2012
Bit Rate
…
Sebelum mendefinisikan apa itu Bit Rate, mari kita definisikan
terlebih dahulu apa itu Bit dan apa itu Rate. Rate dalam bahasa
Indonesia adalah suatu kecepatan. Sedangkan Bit (kepanjangan dari Binary
Digital) dalam bahasa Indonesia adalah kepingan atau potongan. Definisi
ini ditranslate dengan program Kamus 2.03 yang dibuat oleh Mas Ebta
Setiawan.
Dari definisi tersebut, definisi Bit agak rancu bila kita gabungkan dengan definisi Rate. Namun akan lebih mudah bila kita mendefinisikan Bit menjadi suatu digit antara 1 atau 0 yang merupakan awal pembentukan sebuah char (huruf) atau bilangan. Dari sini kita ketahui bahwa setiap huruf atau bilangan itu dibentuk dari kumpulan bit-bit. Pembentuk kata “Komputer” terdiri dari beberapa bit pembentuk huruf “K”,”o”,”m”,”p”,”u”,”t”,”e”, dan “r”.
Apakah Bit itu sama dengan Byte ? Mungkin ada diantara kita yang menanyakan hal tersebut. Keduanya sama saja yaitu membentuk suatu karakter. Namun 1 Byte itu berisikan 8 buah Bit yang merepresentasikan sebuah karakter pada penyimpanan data di memory system perkomputeran.
Ada hal penting yang harus kita pahami bahwa Byte biasanya digunakan untuk mengetahui kapasitas ukuran data pada suatu media penyimpanan seperti harddisk, flashdisk, dan lain-lain. Ukurannya pun dibagi-bagi menjadi Kilo Byte (KB), Mega Byte (MB), Giga Byte (GB), dll.
Sedangkan Bit digunakan untuk mengetahui ukuran kecepatan suatu transfer data dari tempat satu (terminal) ke tempat lain. Jadi kalau kita sedang mendownload data, lalu kita lihat kecepatan transfernya yaitu 60Kbps, maka artinya adalah kecepatan data masuk adalah 60 Kilo Bit per Second (detik) bukan 60 Kilo Byte per Second.
Dari uraian di atas, dapat kita definisikan bahwa bit rate adalah suatu ukuran kecepatan bit suatu data dari tempat satu ke tempat lain yang biasanya diukur dengan waktu seperti Kbps (Kilobit per second), Mbps (Megabit per second) dan seterusnya. Jadi kalau mau internetan, cari warnet atau WIFI yang besar bitnya biar download file atau main game onlinenya tidak perlu lama menunggu.
Lalu apakah penggunaan Bit hanya pada transfer data layaknya di bidang jaringan computer ? Jawabnya adalah tidak. Bit dipakai dimana-mana, contoh lain dari penggunaan Bit adalah pada file mp3 atau video.
Coba kita klik kanan salah satu file mp3, lalu ke properties-nya. Terdapat tab General dan Summary. Lalu ke tab Summary, di Tab itu kita dapat melihat bahwa mp3 tersebut memiliki properties-properties salah satunya adalah Bit Rate.
Mari lihat gambar dibawah ini, sebagai contoh penggunaan bit rate pada mp3.

Dari gambar, dapat kita lihat bahwa file mp3 ini memiliki bit rate sebesar 128kbps. Lalu apa maksudnya ? Saat kita mendengarkan lagu ini, tiap suara yang keluar, diukur dari bit rate-nya. Karena seperti penjelasan diatas bahwa bit adalah pembentuk dari suatu byte dimana byte itu merepresentasikan sebuah karakter. Jadi semakin besar bit ratenya maka semakin halus juga lagu yang kita dengarkan. Sama seperti halnya dengan video, semakin besar bit rate-nya semakin halus pula tampilan videonya.
Satu hal lagi yang kita harus ketahui dari pengguaan bit adalah saat kita membeli suatu VGA Card. Banyak orang hanya mengukur kapasitas dari VGA tersebut namun melupakan ukuran bitnya. Saya katakan bahwa VGA dengan kapasitas 1 GB dengan bit rate hanya 128 lebih bagus VGA dengan kapasitas 512 dengan bit rate sebesar 256. Mengapa? Pahami lagi definisi dari bit.
Apa itu Bit Rate ????
Dari definisi tersebut, definisi Bit agak rancu bila kita gabungkan dengan definisi Rate. Namun akan lebih mudah bila kita mendefinisikan Bit menjadi suatu digit antara 1 atau 0 yang merupakan awal pembentukan sebuah char (huruf) atau bilangan. Dari sini kita ketahui bahwa setiap huruf atau bilangan itu dibentuk dari kumpulan bit-bit. Pembentuk kata “Komputer” terdiri dari beberapa bit pembentuk huruf “K”,”o”,”m”,”p”,”u”,”t”,”e”, dan “r”.
Apakah Bit itu sama dengan Byte ? Mungkin ada diantara kita yang menanyakan hal tersebut. Keduanya sama saja yaitu membentuk suatu karakter. Namun 1 Byte itu berisikan 8 buah Bit yang merepresentasikan sebuah karakter pada penyimpanan data di memory system perkomputeran.
Ada hal penting yang harus kita pahami bahwa Byte biasanya digunakan untuk mengetahui kapasitas ukuran data pada suatu media penyimpanan seperti harddisk, flashdisk, dan lain-lain. Ukurannya pun dibagi-bagi menjadi Kilo Byte (KB), Mega Byte (MB), Giga Byte (GB), dll.
Sedangkan Bit digunakan untuk mengetahui ukuran kecepatan suatu transfer data dari tempat satu (terminal) ke tempat lain. Jadi kalau kita sedang mendownload data, lalu kita lihat kecepatan transfernya yaitu 60Kbps, maka artinya adalah kecepatan data masuk adalah 60 Kilo Bit per Second (detik) bukan 60 Kilo Byte per Second.
Dari uraian di atas, dapat kita definisikan bahwa bit rate adalah suatu ukuran kecepatan bit suatu data dari tempat satu ke tempat lain yang biasanya diukur dengan waktu seperti Kbps (Kilobit per second), Mbps (Megabit per second) dan seterusnya. Jadi kalau mau internetan, cari warnet atau WIFI yang besar bitnya biar download file atau main game onlinenya tidak perlu lama menunggu.
Lalu apakah penggunaan Bit hanya pada transfer data layaknya di bidang jaringan computer ? Jawabnya adalah tidak. Bit dipakai dimana-mana, contoh lain dari penggunaan Bit adalah pada file mp3 atau video.
Coba kita klik kanan salah satu file mp3, lalu ke properties-nya. Terdapat tab General dan Summary. Lalu ke tab Summary, di Tab itu kita dapat melihat bahwa mp3 tersebut memiliki properties-properties salah satunya adalah Bit Rate.
Mari lihat gambar dibawah ini, sebagai contoh penggunaan bit rate pada mp3.
Dari gambar, dapat kita lihat bahwa file mp3 ini memiliki bit rate sebesar 128kbps. Lalu apa maksudnya ? Saat kita mendengarkan lagu ini, tiap suara yang keluar, diukur dari bit rate-nya. Karena seperti penjelasan diatas bahwa bit adalah pembentuk dari suatu byte dimana byte itu merepresentasikan sebuah karakter. Jadi semakin besar bit ratenya maka semakin halus juga lagu yang kita dengarkan. Sama seperti halnya dengan video, semakin besar bit rate-nya semakin halus pula tampilan videonya.
Satu hal lagi yang kita harus ketahui dari pengguaan bit adalah saat kita membeli suatu VGA Card. Banyak orang hanya mengukur kapasitas dari VGA tersebut namun melupakan ukuran bitnya. Saya katakan bahwa VGA dengan kapasitas 1 GB dengan bit rate hanya 128 lebih bagus VGA dengan kapasitas 512 dengan bit rate sebesar 256. Mengapa? Pahami lagi definisi dari bit.
Perbandingan IPv4 dan IPv6 (Jaringan Komputer)
TCP/IP merupakan sebuah protokol yang
mengatur bagaimana suatu node berkomunikasi dengan node lainnya didalam
jaringan. Protokol tersebut berfungsi sebagai bahasa agar satu komputer dapat
berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Internet Protocol (IP) merupakan inti
dari protokol TCP/IP, dimana seluruh data yang berasal dari layer-layer
diatasnya harus diolah oleh protokol ini agar sampai ketujuan. Versi Internet
Protocol yang sudah digunakan luas adalah IPv4.
Saat ini
ketersediaan IPv4 sudah hampir habis, untuk itu dikembangkanlah IPv6 dengan 128
bit address. Dalam pengembangannya, tentu saja terdapat banyak sekali perbedaan
antara IPv4 dengan IPv6 ini.
Perbedaan yang
paling terlihat tentu saja pada bentuknya. Pada IPv4 dengan panjang 32 bit
penotasiaannya dapat menggunakan angka desimal, sedangkan pada IPv6 dengan 128
bit tentu saja akan sangat sulit jika harus mengkonversinya kedalam desimal.
Untuk itu, IPv6 menggunakan bentuk hexadesimal.
Contoh :
·
IPv4 : 192.168.179.0 / 24
·
IPv6 : 2012:6F:: / 32
Dari penulisan
IPv6 diatas mungkin akan muncul pertanyaan, “Kenapa penulisannya bisa sangat
pendek?”. Begini, jadi sebetulnya penulisan yang sebenarnya seperti ini :
2012:006F:0000:0000:0000:0000:0000:0000
/ 32
Karena setelah
bit ke 32 semuanya 0, bisa detuliskan dengan dobel titik dua saja (‘::’).
Untuk lebih
memahaminya, kita bandingkan antara IPv4 dengan IPv6.
A.
Struktur
pengalamatan
·
IPv4
Pengalamatan IPv4 menggunakan 32 bit yang setiap bit
dipisahkan dengan notasi titik. Notasi pengalamatan IPv4 adalah sebagai
berikut:
XXXXXXXX.XXXXXXXX.XXXXXXXX.XXXXXXXX
Dimana setiap simbol X digantikan dengan kombinasi
bit 0 dan 1.
Misalnya:
10000010.11001000.01000000.00000001
(dalam angka biner)
Cara penulisan lain agar mudah diingat adalah dengan
bentuk 4 desimal yang dipisahkan dengan titik. Misal untuk alamat dengan
kombinasi biner seperti diatas dapat dituliskan sebagai berikut:
130.200.127.254
Penulis sudah menganggap teman-teman semua sudah
bisa mengkonversi dari bilangan biner ke desimal.
·
IPv6
Tidak seperti pada IPv4 yang menggunakan notasi
alamat sejumlah 32 bit, IPv6 menggunakan 128 bit. Tujuannya adalah agar alokasi
alamatnya lebih banyak. Jika pada IPv4 hanya 232 (4,5 x 1010),
pada IPv6 mecapai 2128 (3 x 1038).
Notasi alamat IPv6 adalah sebagai berikut:
X:X:X:X:X:X:X:X
Dalam bentuk biner ditulis sebagai berikut:
1111111001111000:0010001101000100:1011111001000001:1011110011011010:
0100000101000101:0000000000000000:0000000000000000:0011101000000000
Notasi alamat IPv6 dalam bentuk biner sengaja saya
tulis untuk menunjukkan betapa panjangnya alamat IPv6.
Agar lebih mudah diinget setiap simbol X digantikan
dengan kombinasi 4 bilangan heksadesimal dipisahkan dengan simbol titik dua
[:]. Untuk contoh diatas dapat ditulis sbb:
FE78:2344:BE43:BCDA:4145:0:0:3A
Sistem pengalamatan IPv6 dapat disederhanakan jika
terdapat beberapa angka "0" secara berturutan. Contohnya untuk notasi
seperti diatas dapat ditulis:
FE78:2344:BE43:BCDA:4145:0:0:3A --> FE78:2344:BE43:BCDA:4145::3A
Contoh lagi:
8088:0:0:0:0:0:4508:4545
--------> 8088::4508:4545
B.
Sistem
pengalamatan
·
IPv4
Sistem pengalamatan IPv4 dibagi menjadi 5 kelas,
berdasarkan jumlah host yang dapat dialokasikan yaitu:
- Kelas A : range 1-126
- Kelas B : range 128-191
- Kelas C : range 192-223
- Kelas D : range 224-247
- Kelas E : range 248-255
Tapi yang lazim dipake hanya kelas A,B dan C
sedangkan kelas D dipakai untuk keperluan alamat multicasting dan kelas E
dipake untuk keperluan eksperimental. Selain itu pada IPv4 dikenal istilah
subnet mask yaitu angka biner 32 bit yang digunakan untuk membedakan network ID
dan host ID, menunjukkan letak suatu host berada dalam satu jaringan atau lain
jaringan. Contohnya :
-
IP address: 164.10.2.1 dan 164.10.4.1
adalah berbeda jaringan jika menggunakan netmask 255.255.254.0, tetapi akan
jika netmasknya diganti menjadi 255.255.240.0 maka kedua IP address diatas berada
dalam satu jaringan. Caranya:
164.10.2.1 --> 10100100.00001010.00000010.00000001
255.255.254.0 --> 11111111.11111111.11111110.00000000
____________________________________
XOR
10100100.00001010.00000010.00000000 --> 164.10.2.0
Dan
164.10.4.1 --> 10100100.00001010.00001000.00000001
255.255.254.0 --> 11111111.11111111.11111110.00000000
____________________________________
XOR
10100100.00001010.00001000.00000000 --> 164.10.4.0
Operasi XOR
caranya adalah seperti penjumlahan, jika angka "1" jumlahnya genap
hasilnya "1" kalo jumlah "1" ganjil hasilnya "0"
(1+1=1, 1+0=0).
Terlihat hasil
operasi XOR dua IP address dengan netmask yang sama hasilnya beda berarti kedua
IP address tersebut berbeda jaringan. untuk contoh berikutnya yang menggunakan
netmask 255.255.240.0 silahkan coba sendiri.
·
IPv6
Pada IPv6 tidak dikenal istilah pengkelasan, hanya
IPv6 menyediakan 3 jenis pengalamatan yaitu: Unicast, Anycast dan Multicast.
-
Alamat unicast yaitu alamat yang
menunjuk pada sebuah alamat antarmuka atau host, digunakan untuk komunikasi
satu lawan satu. pada alamat unicast dibagi 3 jenis lagi yaitu: alamat link
local, alamat site local dan alamat global.
Alamat link local adalah alamat yang digunakan di
dalam satu link yaitu jaringan local yang saling tersambung dalam satu level. Sedangkan
alamat site local setara dengan alamat privat, yang dipakai terbatas di dalam
satu site sehingga terbatas penggunaannya hanya didalam satu site sehingga
tidak dapat digunakan untuk mengirimkan alamat diluar site ini. Alamat global
adalah alamat yang dipakai misalnya untuk Internet Service Provider.
-
Alamat anycast adalah alamat yang
menunjukkan beberapa interface (biasanya node yang berbeda). Paket yang
dikirimkan ke alamat ini akan dikirimkan ke salah satu alamat antarmuka yang
paling dekat dengan router. Alamat anycast tidak mempunyai alokasi khusus, karena
jika beberapa node/interface diberikan prefix yang sama maka alamat tersebut
sudah merupakan alamat anycast.
-
Alamat multicast adalah alamat yang
menunjukkan beberapa interface (biasanya untuk node yang berbeda). Paket yang
dikirimkan ke alamat ini maka akan dikirimkan ke semua interface yang
ditunjukkan oleh alamat ini. Alamat multicast ini didesain untuk menggantikan
alamat broadcast pada IPv4 yang banyak mengkonsumsi bandwidth.
Tabel alokasi
alamat IPv6 :
Alokasi
|
Binary
prefix
|
Contoh
16 bit pertama
|
Global
Unicast
|
001
|
2xxx atau 3xxx
|
Link
Local
|
1111 1110 10
|
FE8x -
FEBx
|
Site
Local
|
1111 1110 11
|
FECx - FEFx
|
Multicast
|
1111 1111
|
FFxx
|
Selain alamat diatas ada juga jenis pengalamatan
lainnya diantaranya:
1. IPv4-compatible
IPv6 address biasanya alamat ini digunakan untuk mekanisme transisi Tunelling.
Format alamatnya sebagai berikut :
80 bits
|
16 bits
|
32 bits
|
0000 . . . . .
. . . . . .0000
|
0000
|
IPv4 address
|
Contoh :
ð 0:0:0:0:0:0:192.168.30.1 --> ::192.168.30.1 --> ::C0A8:1E01
2.
IPv4-mapped
IPv6 address biasanya digunakan untuk mekanisme transisi ISATAP.
80 bits
|
16 bits
|
32 bits
|
0000 . . . . .
. . . . . .0000
|
FFFF
|
IPv4 address
|
Contoh
:
ð ::FFFF:192.168.30.1 --> ::FFFF:C0A8:1E01
3.
IPv6
over ethernet digunakan untuk stateless autoconfiguration (pemberian alamat
IPv6 secara otomatis tanpa memerlukan server yang memberi alokasi IP address,
seperti DHCP tetapi tanpa server).
Contoh
:
00:90:27:17:FC:0F
/\
/ \
FF
FE
Maka
alamatnya menjadi : 00:90:27:FF:FE:17:FC:0F
Kemudian
diblok pertama bit ketujuh diinvers
00:90:27:17:FC:0F
|
000000[0]0
bit yang dikurungi diinvers dari 0 --> 1
Maka
sekarang menjadi : 02:90:27:FF:FE:17:FC:0F
Alamat
tersebut adalah alamat IPv6 over ethernet.
Langganan:
Postingan (Atom)